Jumat, 10 Februari 2012

RENUNGAN

Dalam hidup ini hanya ada 3 hari, yaitu
Yang pertama;

Hari kemarin. (PAST)

Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan; dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja...

Yang kedua:

Hari esok. (FUTURE)

Hingga mentari esok hari terbit,
Anda tak tahu apa yang akan terjadi.
Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; biarkan saja...

Yang tersisa kini hanyalah :

Hari ini. (PRESENT)

Pintu masa lalu telah tertutup;
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.
Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya.
Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.

Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri anda sendiri

Jadi teman, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan SEKARANG juga!!!!!!


sumber  : terselubung

Minggu, 15 Januari 2012

kisah mengharukan "Ketika Anakku Kecanduan Internet dan Game Online"

Ketika Anakku Kecanduan Internet dan Game Online

Namaku Aisyah. Janda. Suamiku meninggal dua tahun yang lalu karena sakit yang dideritanya. Tak ada harta yang ia tinggalkan. Sehingga keluarga besar kami pun tak perlu meributkan pembagian warisan. Aku bersyukur karena masih diberikan Allah keterampilan membuat aneka masakan Indonesia yang sangat digemari oleh teman-teman kantor suamiku. Sehingga sepeninggalnya aku masih bisa tetap bekerja sebagai penjaga warung di samping kantornya. Alhamdulillah rezeki itu cukup untuk kebutuhan pokok harian dan sekolah abang, panggilan sayangku untuk anak semata wayang kami, Fikri.
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah 155)
Menjadi seorang ibu sekaligus orang tua tunggal bagi Fikri menjadi teramat sulit ketika aku tak bisa mengontrol perilakunya di sekolah. Menginjak remaja spektrum teman sepermainan Fikri mulai luas. Berbagai cara kulakukan untuk mendekatkannya pada lingkungan (bi’ah) yang menyentuh  nilai-nilai agama. Kuikutkan ia dalam pengajian anak sekolah milik teman ngajiku, ikut pesantren setiap sabtu, bahkan tak jarang aku mengiriminya sms taujih kepadanya. Namun perilaku anakku, Fikri, tak juga berubah. Kecanduannya pada game online dan internet semakin menjadi seiring menjamurnya warnet di kampung kami.
Setiap sepulang sekolah, dari sisa uang jajan yang seharusnya bisa ia gunakan untuk menabung, ia relakan untuk main di tempat Bang Qosim, pemilik warnet yang ada di dekat sekolahnya. Aku sempat protes pada pihak sekolah. Mengapa mengijinkan pendirian tempat macam itu di area sekolah? Biarpun hanya tamatan SMA, aku sangat peduli dengan perkembangan mentalnya. Aku tahu seperti apa kelak seorang anak lelaki jika ia kehilangan jati dirinya ketika memasuki usia remaja. Dan sungguh aku tak ingin itu terjadi pada pada anakku, Fikri.
Aku hanya bisa mengadu pada-Nya…
Namun ikhtiarku tak juga membuahkan hasil. Mungkin Allah meminta usahaku lebih giat untuk mendekati anakku. Habis akal aku melarangnya, alih-alih berhenti, ia malah rela tak jajan hanya karena ingin terus main game online. Pernah kutemani dia ke tempat Bang Qosim untuk melihat siapa saja temannya.
“Nyokap lu itu, Fik? Tumben. Sudah ikut kecanduan juga?” sapanya pada Fikri melihat kami masuk. Dan Fikri hanya menjawab sambil menunduk. Dikatai begitu aku hanya melirik sensi. Tak kugubris ocehan bang Qosim, dan mengikuti Fikri dari belakang.
Anakku masuk ke sebuah bilik. Bau rokok dan puntungnya bertebaran di mana-mana. Ditambah gambar-gambar kartun manga yang terbilang porno. Masyaallah, inikah yang dilihat anakku setiap hari?
“Tenang Mi, abang nggak ngerokok kok. Kata Umi merokok kan tidak baik untuk kesehatan.” Aku sedikit bernapas lega.
“Umi mau ikut main juga deh,” ujarku membuatnya terperanjat.
“Yakin, Mi?”
Aku bisa mengoperasikan game itu, tapi setelahnya kepalaku langsung berdenyut-denyut. Tak sampai 15 menit kuhentikan permainan dan mengajaknya pulang.  Aku pun berjalan terhuyung sepulang dari tempat Bang Qosim. Dan Fikri hanya mengulum senyum. Dari situ aku mulai was-was. Walaupun ia tak sampai meninggalkan sholat, ngaji, ataupun ngentit (nyimpen) uang SPP nya untuk nge-game, tapi uang tabungannya tak bertambah se-sen pun dari bulan ke bulan. Aku kebakaran jenggot (hmm apa ya bahasa yang tepat, aku kan wanita jadi nggak punya jenggot, hehe)
Di satu malam sepulang ia main game aku mendudukannya di ruang tamu. Hal yang dulu sering dilakukan almarhum suamiku ketika kami ingin mencari solusi dari berbagai masalah. Ia duduk di depanku dengan tatapan lugunya. Ah, merindukan aku pada almarhum bapaknya saja.
Kumulai percakapan dengan nada serendah mungkin agar tak terjadi saling maki di antara kami, ya walaupun kutahu itu tak akan terjadi.
“Abang… boleh main game online, tapi dengan uang sendiri.”
Ia mendongak. Terkejut menatapku. “Umi, jangan gitu dong. Abang kan belum kerja,” oh, Tuhan, dia mulai merajuk.
“Kalau Abang masih mau main game, Umi kasih modal, buat jualan. Jadi uangnya nanti bisa abang pakai.”
Dia diam. Anak sekecil itu sudah mulai kuajarkan berpikir untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Tak sampai hati sebenarnya, aku hanya ingin memberikan syok terapi atas saran dari teman ngajiku, seorang psikolog.
“Jualan apa, Mi?”
“Terserah Abang. Tapi yang pasti Umi tidak akan berikan uang jajan. Dan untuk sementara buku tabungan Umi yang bawa.”
Ia bernapas panjang lalu bangkit. Hal yang tak pernah dilakukannya sebelum kami selesai bicara.
“Baik, Mi, Abang akan bekerja,” lalu dia masuk ke dalam kamar.
Setelah hari itu Fikri, anakku, berjualan es teh ke teman-temannya. Dagangannya laris (rupanya ia juga mewarisi bakatentrepreneur seperti ibunya, haha, bangga). Dan karena itu adalah hasil kerjanya kubiarkan ia memakai sesuai dengan kebutuhannya. Karena aku percaya, dan kami saling percaya, dan aku mempercayakan penjagan anakku, Fikri, kepada Allah semata. Tapi itu hanya terjadi sebulan saja.
Pada satu malam kulihat wajahnya kuyu. Ia hanya mengucapkan salam, cuci kaki ke belakang sambil wudhu. Kuikuti langkahnya menuju kamar. Kutunggu ia selesai sholat maghrib. Lalu kusejajari duduknya di atas dipan.
“Tumben Abang pulang cepat. Nggak mampir ke Bang Qosim dulu seperti biasa? Nanti Bang Qosim kangen lho..,”
Fikri pasang tampang cemberut. Ia hanya menjawabku sambil menggeleng.
“Kenapa? Abang capek?”
“Iya, Mi.”
“Sini Umi pijitin,” Allah, mungkin inilah saat yang tepat aku bisa merebut hati anakku. Mudahkan, lapangkanlah hatinya, cerahkan pikiran, dan ringankan lidahku yang kelu untuk berbicara Ya Allah.
“Sekarang Abang ngerti kan gimana susahnya Umi cari uang,” kataku sambil mengurut lengannya yang mulai meghitam terbakar sinar matahari. Mataku nanar.
“Iya, Mi. Maafkan Abang ya,” katanya lirih.
“Untuk selanjutnya Umi kasih abang pilihan. Abang pilih tetap jualan atau belajar? Kalau pilih belajar tinggalkan game online, dan Umi akan modali sekolah abang sampai kuliah nanti. Dan sungguh-sungguh berniat untuk cari ilmu Allah. Dan kalau pilih game online Abang bisa tetap lanjutkan jualan.”
Ia membalikkan badan lalu serta merta memelukku erat. “Abang cuma ingin memilih dan melakukan apa yang Umi dan Allah ridhai.”
Anakku Fikri, kau hanya seorang lelaki kecil yang mulai mengenal kerasnya hidup sebelum waktunya. Beruntunglah Allah masih membukakan kesempatan dan jalan untuk kembali pada-Nya di saat yang tepat. Ibarat hidayah itu adalah tetesan air hujan, kadang adanya payung justru menjadi penghambat datangnya hidayah pada seseorang (ya, bukan berarti kalo hujan nggak usah pakai payung, karena ini adalah sebuah
analogi). Banyak yang tak menyadari betapa melimpah rahmat Allah datang dan pintu-pintu-Nya selalu terbuka lebar. Hanya saja kita tak menemukan dan memiliki kunci-kunci itu karena tak ada penerang di dalam kalbu.
Teaching point :
Ibarat arus listrik, itulah pikiran seorang anak. Korsleting dalam sebuah komunikasi akan terjadi karena adanya kontak langsung antara kabel positif dan negatif yang biasanya dibarengi dengan percikan bunga api, dan bunga api inilah yang memicu kebakaran. Itulah hikmah dari perkataan yang baik yang diajarkan lukman pada putranya (QS Lukman).
Selalu mintalah kepada Allah agar mudah melunakkan hati anak-anak kita, karena Allah lah sang pembolak balik dan pemilik hati. (Doa Nabi Musa saat menghadapi Fir’aun)
Tiada tempat bergantung. Tidak pula manusia yang memiliki kekayaan melimpah sedikitpun. (QS Al Ikhlas)